Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar, Mac 1943)
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar, Mac 1943)
Petikan puisi penyair terkemuka Indonesia, si patah hati lagi loser, Chairil Anwar, yang terdapat di dalam sebuah buku "lucah" dan ditulis oleh seorang "pelucah" warganegara Singapura, Nizam Zakaria, yang juga penulis skrip cerita merepek lagi membosankan, Spa Q.

2 comments:
Loser..
Tapi Chairil Anwar ni cool.. tahun 40an dah ada mamat punk nusantara.
puisi Aku ni mmg 'punk'
setuju...
tp, "jiwa kacau" makin meresap lam jiwe aku... cmne ni?
Post a Comment